Nikmat
Syukur
La in
Syakartum La Azidannakum Walainkafartum Inna Azabi Lasyadiid
Dalam mengucap
rasa bersyukur merupakan karakter dasar yang penting dimiliki setiap orang.
Sebuah karakter yang terbangun bila sungguh-sungguh meyakini sila Ketuhanan
Yang Maha Esa. Seorang berketuhanan menyadari, begitu banyak nikmat yang telah
Tuhan berikan. Maka semestinya bila manusia bersyukur.
Syukur adalah rasa
terima kasih. Jadi bersyukur berarti berterima kasih. Keberadaban seseorang
antara lain tercermin pada kepandaiannya berterima kasih. Dalam hidup, manusia
menerima begitu banyak karunia Tuhan. Dapat melihat adalah karunia. Dapat
mendengar, mencium, merasakan juga karunia. Begitu pula bernapas, menghirup
udara yang membawa oksigen setiap saat sepanjang usia.
Banyak karunia
yang tak mudah diukur. Karunia sehat, misalnya. Kadang manusia baru menghargai
sehat setelah jatuh sakit. Saat sehat malah sering terlupa dengan karunia itu.
Pikiran juga karunia luar biasa. Dengan karunia itu manusia dapat berpikir.
Dapat berpikir berarti membuat tahu apa yang terbaik. Tentu juga membuat tahu
apa yang tidak baik, yang harus dihindari.
Lebih dari
semua itu adalah karunia iman. Karunia untuk memahami dan meyakini adanya Tuhan
yang memberi kebahagiaan sejati. Bukan hanya memberi pekerjaan, rezeki, hingga
kehormatan. Tuhan juga mengaruniai kasih sayang. Maka manusia mengasihi
pasangan hidupnya. Orang tua menyayangi anak-anaknya. Juga menyayangi sesama.
Tuhan juga
mengaruniai rasa bahagia. Baik di dunia ini, apalagi di akhirat kelak. Ringkas
kata, hidup adalah karunia. Karena itu, patut dan wajib disyukuri
sebaik-baiknya. Mensyukuri setiap karunia sungguh nikmat dan membahagiakan.
Banyak bersyukur akan mengundang nikmat dan kebahagiaan berikutnya. Itu
petunjuk Tuhan bagi semua manusia yang ingin hidup bahagia.
“Lain
syakartum la azidannakum. Walain kafartum inna ‘adzabi lasyadid ”. Itu
firman Allah menurut ajaran Islam. Siapa mensyukuri hidup akan dikaruniai
tambahan kebahagiaan melimpah. Sebaliknya, yang menolak mengakui nikmat akan
menuai penderitaan.
Maka bahagia
dan menderita sepenuhnya bergantung pada diri sendiri:
Mau atau tidak
mensyukuri hidup? Mau atau tidak mengakui nikmat?
Manusia
bersyukur memang orang yang selalu mengingat nikmat. Itu membuat dapat
menikmati setiap keadaan. Baik saat ditimpa musibah, apalagi bila mendapat
karunia. Orang-orang seperti itu tak gampang jengkel dan marah. Apalagi dendam
dan iri hati. Yang selalu diingat selalu bersyukur bukan keburukan, melainkan
kebaikan orang lain.
Orang
bersyukur hidup tenang dan bahagia. Siap terhadap segala keadaan, tidak gampang
tersinggung, juga tidak gampang khawatir. Juga seorang yang optimis, menyebarkan
virus keoptimisannya pada semua orang tak berlebihan bila bersyukur disebut ‘gerbang kesuksesan’. Karena itu, mari
bersyukur agar meraih bahagia sejati!
Firman Allah
kepada hamba-Nya:
“lainsyakartum
laaziidannakum walainkarfartum inna ‘adzaabii lasyadid”
“jika
kalian bersyukur pasti akan Aku tambah ni’mat-Ku padamu tetapi jika kalian
kufur sesungguhnya adzab-Ku amat pedih”. (QS. Ibrahim 14:7).
Ini
menunjukkan bahwa betapa Allah menyayangi hamba yang pandai mensyukuri nik'mat
dan ancaman kepada hamba-Nya yang kufur akan nikmat-Nya.
Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa barang siapa hamba-Ku yang mensyukuri atas
nikmat yang Aku berikan, tenanglah Aku akan tambahkan nikmat-Ku padamu. Di ayat
tersebut juga Allah melanjutkan dengan ancaman-Nya:
Bahwa
barang siapa yang tidak syukur terhadap nikmat yang Aku berikan (baik itu
berupa kenikmatan/berupa ujian) maka tunggulah sesungguhnya azab-Ku sangatlah
pedih.
Saudaraku semua, mari tanyakan pada diri kita. Apakah kita termasuk hamba yang selalu bersyukur atau hamba yang kufur?
Bersyukur
Dengan Lisan/Ucapan,
Apa arti
Syukur? Dari segi bahasa Syukur berasal berasal dari kata "Syakara"-"Yasykuru" yang maknanya "Tsana'";yaitu "Memuji"
atau "Menghargai". Jadi, mensyukuri
nikmat artinya "menghargai nikmat".
Nabi Muhammad SAW
memberi petunjuk yang jelas dalam hal ini, sabda Beliau: "Man
Lam Yasykuril-Qalil Lam Yasykuril-Katsir".
Artinya:"Siapa-saja yang tidak bisa menghargai
--nikmat-- yg sedikit, maka ia tidak akan bisa menghargai --nikmat-- yang banyak".
Ini merupakan pelajaran bersyukur, yaitu dimulai dari belajar menghargai nikmat
yang sedikit.
Mensyukuri atau menghargai nikmat, akan membuat nikmat semangkin bertambah,
sebagaimana firman Allah: "La-in
Syakartum La-azidannakum", artinya: "Niscaya jika kalian bersyukur (menghargai),
pasti Aku
(Allah) akan menambah --kenikmatan-- untuk kalian" (Surah Ibrahim (14)
ayat 7).
Pertanyaannya:
Bersyukur
yang bagaimana yang bisa menambah kenikmatan?
Imam
Asy-Syaukani mengatakan bahwa sumber utk mensyukuri nikmat Allah itu ada 3 (tiga);
1. Lisan/Ucapan
2. Hati
3. Perbuatan.
3. Perbuatan.
Jadi, Allah baru akan menambah kenikmatan kepada seseorang, jika ia mensyukuri (menghargai) nikmat itu dengan lisan/ucapan, hati dan perbuatan.
Imam Ibnul-Qayyim mengistilahkan 3 (tiga) hal ini sebagai Qaidun-Ni'mah
(Pengikat Nikmat); yaitu 3 (tiga) hal yang membuat nikmat menjadi terikat,
tidak lepas, berkurang atau hilang. Bahkan ia (nikmat) akan bertambah terus.
Nah, bagaimanakah cara bersyukur atau menghargai nikmat dengan lisan/ ucapan?
Pada dasarnya, manusia tidak akan mampu mensyukuri nikmat Allah yang begitu
banyak, dan tak terhitung, sebagaimana firman-Nya: "WA In Ta'uddu
Ni'matallahi La Tuhshuha"; artinya: "Jika kalian
--mencoba--menghitung nikmat Allah, pasti kalian tidak bisa menghitungnya"
(Surah Ibrahim 14) ayat 34). Karena itu Allah memberikan kalimat yang luar
-biasa; yaitu: Al-Hamdulillah.
Ibnu 'Abbas mengatakan: "Al-Hamdulillah Kalimatusy-Syukri";
artinya:"Al-Hamdulillah adalah kalimat untuk bersyukur". Yaitu, dengan
ucapan Al-Hamdulillah, seseorang sudah dapat disebut bersyukur atau
mensyukuri/menghargai nikmat Allah. Dan inilah yang disebut bersyukur dengan
lisan/ucapan. Nabi SAW bersabda: "Ma An'amallahu 'ala 'Abdin...
Artinya: "Tidaklah Allah memberi suatu kenikmatan kepada seseorang, lalu ia
mengucapkan Al-Hamdulillah, melainkan ucapan hamdalahnya itu lebih istimewa
(afdhal) dari nikmat tersebut".(H.R.Ath-Thabrani). Maksudnya, jika
seseorang mendapat nikmat, lalu ia mengucapkan Al-Hamdulillah, maka nilai atau
kontribusi ucapan itu lebih besar dan lebih dahsyat dari nikmat yang dia
peroleh. Inilah kehebatan kalimat "Alhamdhulillah".
Masih tentang kehebatan ucapan Al-Hamdulillah, Nabi SAW bersabda: "Law
Annad-Dun-ya Kullaha Bihadzafiriha Fi Yadi Rajulin Min Umati, Tsumma
Qala:Al-Hamdulillah, Lakanal- Hamdu Afdhala Min Dzalika".
artinya:
"Seandainya Dunia seluruhnya,
beserta isinya diberikan kepada seorang dari umat-ku, lalu ia berkata:
Al-Hamdulillah, maka ucapan Al-hamdu itu lebih utama dari itu semua".(H.R.Al-Hakim).
Hadits ini menyatakan betapa luas dan besarnya keutamaan ucapan Al-Hamdulillah,
lebih luas dan besar daripada Dunia dan se-isinya. Bahkan ucapan Al-Hamdulillah
mendatangkan keridhaan Allah sebagaimana sabda Nabi SAW: "Innallaha
Ta'ala Layardha 'Anil-'Abdi An-Ya'kulal-Aklata Aw Yasyrabusy-Syurbata
Fayahmadullaha 'Alaiha".
artinya: "Sungguh Allah benar-benar ridha kepada
seorang hamba, jika ia mengkonsumsi makanan atau minuman, ia selalu mengucapkan
Al-Hamdulillah" (H.R.Ahmad,Muslim,At-Tirmidzi dan An-Nasa-i). Subhanallahi Wal-Hamdulillah;tiada yg lebih
utama daripada keridhaan Allah dan betapa dahsyatnya kalimat
"Al-Hamdulillah".
Ibnu 'Abbas berkata:"Al-Hamdulillah Kalimatu Kulli Syakirin".
artinya:"Al-Hamdulillah
adalah kalimat --- yang diucapkan oleh --- setiap orang yang bersyukur".
Inilah ilmu tentang bersyukur dengan "lisan/ucapan" yang diajarkan
Rasulullah SAW. Sepantasnyalah kita mulai mendidik diri kita untuk bersyukur
yaitu menghargai nikmat Allah dengan lisan kita.
Sebagai penutup
tulisan kajian "bersyukur dengan lisan", kami kutipkan sabda
Rasulullah SAW: "Ma An'amallahu 'Abdan Ni'matan Faqala:
Al-Hamdulillah, Illa Kanalladzi A'tha Afdhal Min-Ma Akhadza".
artinya:
"Tidaklah seorang hamba diberi
nikmat oleh Allah, lalu ia mengucapkan: Al-Hamdulillah, melainkan --ucapan--
yang dia berikan itu lebih utama dari --nikmat-- yang dia peroleh (H.R.
Ibnu Majah).
sumber: media kajian agama Islam
Blogspot al-fudhola gp. e-mail, alfudhola16graha@gmail.com























