Powered By Blogger

Selasa, 27 September 2016

Indahnya Bersyukur

Nikmat Syukur 
La in Syakartum La Azidannakum Walainkafartum Inna Azabi Lasyadiid

Dalam mengucap rasa bersyukur merupakan karakter dasar yang penting dimiliki setiap orang. Sebuah karakter yang terbangun bila sungguh-sungguh meyakini sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Seorang berketuhanan menyadari, begitu banyak nikmat yang telah Tuhan berikan. Maka semestinya bila manusia bersyukur.
Syukur adalah rasa terima kasih. Jadi bersyukur berarti berterima kasih. Keberadaban seseorang antara lain tercermin pada kepandaiannya berterima kasih. Dalam hidup, manusia menerima begitu banyak karunia Tuhan. Dapat melihat adalah karunia. Dapat mendengar, mencium, merasakan juga karunia. Begitu pula bernapas, menghirup udara yang membawa oksigen setiap saat sepanjang usia.

Banyak karunia yang tak mudah diukur. Karunia sehat, misalnya. Kadang manusia baru menghargai sehat setelah jatuh sakit. Saat sehat malah sering terlupa dengan karunia itu. Pikiran juga karunia luar biasa. Dengan karunia itu manusia dapat berpikir. Dapat berpikir berarti membuat tahu apa yang terbaik. Tentu juga membuat tahu apa yang tidak baik, yang harus dihindari.
Lebih dari semua itu adalah karunia iman. Karunia untuk memahami dan meyakini adanya Tuhan yang memberi kebahagiaan sejati. Bukan hanya memberi pekerjaan, rezeki, hingga kehormatan. Tuhan juga mengaruniai kasih sayang. Maka manusia mengasihi pasangan hidupnya. Orang tua menyayangi anak-anaknya. Juga menyayangi sesama.
Tuhan juga mengaruniai rasa bahagia. Baik di dunia ini, apalagi di akhirat kelak. Ringkas kata, hidup adalah karunia. Karena itu, patut dan wajib disyukuri sebaik-baiknya. Mensyukuri setiap karunia sungguh nikmat dan membahagiakan. Banyak bersyukur akan mengundang nikmat dan kebahagiaan berikutnya. Itu petunjuk Tuhan bagi semua manusia yang ingin hidup bahagia.

Lain syakartum la azidannakum. Walain kafartum inna ‘adzabi lasyadid ”. Itu firman Allah menurut ajaran Islam. Siapa mensyukuri hidup akan dikaruniai tambahan kebahagiaan melimpah. Sebaliknya, yang menolak mengakui nikmat akan menuai penderitaan.
Maka bahagia dan menderita sepenuhnya bergantung pada diri sendiri:
Mau atau tidak mensyukuri hidup? Mau atau tidak mengakui nikmat?

Manusia bersyukur memang orang yang selalu mengingat nikmat. Itu membuat dapat menikmati setiap keadaan. Baik saat ditimpa musibah, apalagi bila mendapat karunia. Orang-orang seperti itu tak gampang jengkel dan marah. Apalagi dendam dan iri hati. Yang selalu diingat selalu bersyukur bukan keburukan, melainkan kebaikan orang lain.
Orang bersyukur hidup tenang dan bahagia. Siap terhadap segala keadaan, tidak gampang tersinggung, juga tidak gampang khawatir. Juga seorang yang optimis, menyebarkan virus keoptimisannya pada semua orang tak berlebihan bila bersyukur disebut ‘gerbang kesuksesan’. Karena itu, mari bersyukur agar meraih bahagia sejati! 

Firman Allah kepada hamba-Nya:
lainsyakartum laaziidannakum walainkarfartum inna ‘adzaabii lasyadid
 “jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah ni’mat-Ku padamu tetapi jika kalian kufur sesungguhnya adzab-Ku amat pedih”. (QS. Ibrahim 14:7).
Ini menunjukkan bahwa betapa Allah menyayangi hamba yang pandai mensyukuri nik'mat dan ancaman kepada hamba-Nya yang kufur akan nikmat-Nya.
Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa barang siapa hamba-Ku yang mensyukuri atas nikmat yang Aku berikan, tenanglah Aku akan tambahkan nikmat-Ku padamu. Di ayat tersebut juga Allah melanjutkan dengan ancaman-Nya:
Bahwa barang siapa yang tidak syukur terhadap nikmat yang Aku berikan (baik itu berupa kenikmatan/berupa ujian) maka tunggulah sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.
Saudaraku semua, mari tanyakan pada diri kita. Apakah kita termasuk hamba yang selalu bersyukur atau hamba yang kufur?
Bersyukur Dengan Lisan/Ucapan,
Apa arti Syukur? Dari segi bahasa Syukur berasal berasal dari kata "Syakara"-"Yasykuru" yang maknanya "Tsana'";yaitu "Memuji" atau "Menghargai". Jadi, mensyukuri nikmat artinya "menghargai nikmat".
Nabi Muhammad SAW memberi petunjuk yang jelas dalam hal ini, sabda Beliau: "Man Lam Yasykuril-Qalil Lam Yasykuril-Katsir".
Artinya:"Siapa-saja yang tidak bisa menghargai --nikmat-- yg sedikit, maka ia tidak akan bisa menghargai --nikmat-- yang banyak". Ini merupakan pelajaran bersyukur, yaitu dimulai dari belajar menghargai nikmat yang sedikit.
Mensyukuri atau menghargai nikmat, akan membuat nikmat semangkin bertambah, sebagaimana firman Allah: "La-in Syakartum La-azidannakum", artinya: "Niscaya jika kalian bersyukur (menghargai),
pasti Aku (Allah) akan menambah --kenikmatan-- untuk kalian" (Surah Ibrahim (14) ayat 7).

Pertanyaannya: Bersyukur yang bagaimana yang bisa menambah kenikmatan?
Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa sumber utk mensyukuri nikmat Allah itu ada 3 (tiga);

1.       Lisan/Ucapan
2.       Hati
3.       Perbuatan.

Jadi, Allah baru akan menambah kenikmatan kepada seseorang, jika ia mensyukuri (menghargai) nikmat itu dengan lisan/ucapan, hati dan perbuatan.
Imam Ibnul-Qayyim mengistilahkan 3 (tiga) hal ini sebagai Qaidun-Ni'mah (Pengikat Nikmat); yaitu 3 (tiga) hal yang membuat nikmat menjadi terikat, tidak lepas, berkurang atau hilang. Bahkan ia (nikmat) akan bertambah terus. Nah, bagaimanakah cara bersyukur atau menghargai nikmat dengan lisan/ ucapan?
Pada dasarnya, manusia tidak akan mampu mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak, dan tak terhitung, sebagaimana firman-Nya: "WA In Ta'uddu Ni'matallahi La Tuhshuha"; artinya: "Jika kalian --mencoba--menghitung nikmat Allah, pasti kalian tidak bisa menghitungnya" (Surah Ibrahim 14) ayat 34). Karena itu Allah memberikan kalimat yang luar -biasa; yaitu: Al-Hamdulillah.
Ibnu 'Abbas mengatakan: "Al-Hamdulillah Kalimatusy-Syukri"; artinya:"Al-Hamdulillah adalah kalimat untuk bersyukur". Yaitu, dengan ucapan Al-Hamdulillah, seseorang sudah dapat disebut bersyukur atau mensyukuri/menghargai nikmat Allah. Dan inilah yang disebut bersyukur dengan lisan/ucapan. Nabi SAW bersabda: "Ma An'amallahu 'ala 'Abdin...
Artinya: "Tidaklah Allah memberi suatu kenikmatan kepada seseorang, lalu ia mengucapkan Al-Hamdulillah, melainkan ucapan hamdalahnya itu lebih istimewa (afdhal) dari nikmat tersebut".(H.R.Ath-Thabrani). Maksudnya, jika seseorang mendapat nikmat, lalu ia mengucapkan Al-Hamdulillah, maka nilai atau kontribusi ucapan itu lebih besar dan lebih dahsyat dari nikmat yang dia peroleh. Inilah kehebatan kalimat "Alhamdhulillah".
Masih tentang kehebatan ucapan Al-Hamdulillah, Nabi SAW bersabda: "Law Annad-Dun-ya Kullaha Bihadzafiriha Fi Yadi Rajulin Min Umati, Tsumma Qala:Al-Hamdulillah, Lakanal- Hamdu Afdhala Min Dzalika".
artinya: "Seandainya Dunia seluruhnya, beserta isinya diberikan kepada seorang dari umat-ku, lalu ia berkata: Al-Hamdulillah, maka ucapan Al-hamdu itu lebih utama dari itu semua".(H.R.Al-Hakim).
Hadits ini menyatakan betapa luas dan besarnya keutamaan ucapan Al-Hamdulillah, lebih luas dan besar daripada Dunia dan se-isinya. Bahkan ucapan Al-Hamdulillah mendatangkan keridhaan Allah sebagaimana sabda Nabi SAW: "Innallaha Ta'ala Layardha 'Anil-'Abdi An-Ya'kulal-Aklata Aw Yasyrabusy-Syurbata Fayahmadullaha 'Alaiha".
artinya: "Sungguh Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba, jika ia mengkonsumsi makanan atau minuman, ia selalu mengucapkan Al-Hamdulillah" (H.R.Ahmad,Muslim,At-Tirmidzi dan An-Nasa-i). Subhanallahi Wal-Hamdulillah;tiada yg lebih utama daripada keridhaan Allah dan betapa dahsyatnya kalimat "Al-Hamdulillah".
Ibnu 'Abbas berkata:"Al-Hamdulillah Kalimatu Kulli Syakirin".
artinya:"Al-Hamdulillah adalah kalimat --- yang diucapkan oleh --- setiap orang yang bersyukur". Inilah ilmu tentang bersyukur dengan "lisan/ucapan" yang diajarkan Rasulullah SAW. Sepantasnyalah kita mulai mendidik diri kita untuk bersyukur yaitu menghargai nikmat Allah dengan lisan kita.
Sebagai penutup tulisan kajian "bersyukur dengan lisan", kami kutipkan sabda Rasulullah SAW: "Ma An'amallahu 'Abdan Ni'matan Faqala: Al-Hamdulillah, Illa Kanalladzi A'tha Afdhal Min-Ma Akhadza".
artinya: "Tidaklah seorang hamba diberi nikmat oleh Allah, lalu ia mengucapkan: Al-Hamdulillah, melainkan --ucapan-- yang dia berikan itu lebih utama dari --nikmat-- yang dia peroleh (H.R. Ibnu Majah).

Wallahu a’lam bishawab.

sumber: media kajian agama Islam

Blogspot al-fudhola gp.  e-mail, alfudhola16graha@gmail.com






Tidak ada komentar:

Posting Komentar