Perjalanan
Menyambut Kematian.
Assalamualaikum,
wr.wb.
Alhamdulillah, segala Puji hanya
bagi Allah SWT, yang senantiasa memberikan berjuta kenikmatan kepada semua
hamba-Nya,
Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada jujungan
kita Nabi Besar Muhammad SAW. beserta keluarga sahabat dan seluruh umatnya.
Amiin.
Saudaraku Yang
Budiman, Apa Yang akan Saudaraku siapkan Untuk Menyambutnya,
Kematian, salah
satu rahasia ilmu ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Allah telah
menetapkan setiap jiwa pasti akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu.
Apabila sudah tiba saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan
tugasnya. Dia tidak mau menerima pengunduran jadwal, barang sedetik sekalipun.
Karena bukanlah sifat malaikat seperti manusia, yang zalim dan jahil.
Manusia
tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia lalai mempersiapkan
diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para malaikat yang senantiasa patuh
dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai, tidakkah manusia sadar. Seandainya
dia tahu apa isi neraka saat ini juga pasti dia akan menangis, menangis dan
menangis. SubhanAllah, adakah orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah
tempat penuh siksa. Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia
durhaka. Neraka ada di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri
darinya? Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi
malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam? Apakah kita tidak
ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita melakukannya, kemudian
sesudahnya kita melakukannya? Sampai kapan akan jera?
Sebab-sebab
su’ul khatimah
Saudaraku Yang
Budiman, mudah-mudahan Allah SWT. memberikan taufik kepada kita sekalian,
ketahuilah bahwa su’ul khatimah tidak akan terjadi pada diri orang yang shalih
secara lahir dan batin di hadapan Allah. Terhadap orang-orang yang jujur dalam
ucapan dan perbuatannya, tidak pernah terdengar cerita bahwa mereka su’ul
khotimah.
Su’ul khotimah
hanya terjadi pada orang yang rusak batinnya, rusak keyakinannya, serta rusak
amalan lahiriahnya, yakni terhadap orang-orang yang nekat melakukan dosa-dosa
besar dan berani melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Kemungkinan semua dosa
itu demikian mendominasi dirinya sehingga ia meninggal saat melakukannya,
sebelum sempat bertaubat dengan sungguh-sungguh. (naudzubillah suma nauzubillah
minzalik).
Perlu diketahui
bahwa su’ul khotimah memiliki berbagai sebab yang banyak jumlahnya. Di
antaranya yang terpokok adalah sebagai berikut :
Berbuat syirik
kepada Allah ‘azza wa jalla. Pada hakikatnya syirik adalah ketergantungan hati
kepada selain Allah dalam bentuk rasa cinta, rasa takut, pengharapan, do’a,
tawakal, inabah (taubat) dan
lain-lain.
Berbuat bid’ah
dalam melaksanakan agama. Bid’ah adalah menciptakan hal baru yang tidak ada
tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Penganut bid’ah tidak akan mendapat
taufik untuk memperoleh husnul khatimah, terutama penganut bid’ah yang sudah
mendapatkan peringatan dan nasehat atas kebid’ahannya. Semoga Allah Ta’ala
memelihara diri kita dari kehinaan itu.
Terus menerus
berbuat maksiat dengan menganggap remeh dan sepele perbuatan-perbuatan maksiat
tersebut, terutama dosa-dosa besar. Pelakunya akan mendapatkan kehinaan di saat
mati, disamping setan pun semakin memperhina dirinya. Dua kehinaan akan ia
dapatkan sekaligus dan ditambah lemahnya iman, akhirnya ia mengalami su’ul
khotimah.
Melecehkan agama
dan ahli agama dari kalangan ulama, da’i, dan orang-orang shalih serta ringan
tangan dan lidah dalam mencaci dan menyakiti mereka.
Lalai terhadap
Allah dan selalu merasa aman dari siksa Allah.
Allah berfirman
yang artinya, “Apakah mereka merasa aman
dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang
merugi” (QS. Al-A’raaf [7]: 99)
Berbuat zalim.
Kezaliman memang ladang kenikmatan namun berakibat menakutkan. Orang-orang yang
zalim adalah orang-orang yang paling layak meninggal dalam keadaan su’ul
khotimah.
Allah berfirman
yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak
akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al-An’aam [6]:
44)
Berteman dengan
orang-orang jahat.
Allah berfirman
yang artinya, “(Ingatlah) hari ketika
orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya
(dulu) aku mengambil jalan yang lurus
bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak menjadikan si
fulan sebagai teman akrabku” (QS. Al-Furqaan [25]: 27-28)
Bersikap ujub.
Sikap ujub pada hakikatnya adalah sikap seseorang yang merasa bangga dengan
amal perbuatannya sendiri serta menganggap rendah perbuatan orang lain, bahkan
bersikap sombong di hadapan mereka. Ini adalah penyakit yang dikhawatirkan
menimpa orang-orang shalih sehingga menggugurkan amal shalih mereka dan
menjerumuskan mereka ke dalam su’ul khotimah.
Demikianlah
beberapa hal yang bisa menyebabkan su’ul khotimah. Kesemuanya adalah biang dari
segala keburukan, bahkan akar dari semua kejahatan. Setiap orang yang berakal
hendaknya mewaspadai dan menghindarinya, demi menghindari su’ul khotimah.
Tanda-tanda
husnul khotimah
Tanda-tanda
husnul khotima cukup banyak. Di sini kami menyebutkan sebagian di antaranya
saja:
Mengucapkan kalimat tauhid “laa
ilaaha illallaah” saat meninggal. Rasulullah SAW (shallallahu ‘alaihi
wa sallam) bersabda, “Barangsiapa yang
akhir ucapan dari hidupnya adalah laa ilaaha illallaah, pasti masuk surga”
(HR. Abu Dawud dll, dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil)
Meninggal pada malam Jum’at atau
pada hari Jum’at. Rasulullah SAW (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Setiap muslim yang meninggal pada hari atau
malam Jum’at pasti akan Allah lindungi dari siksa kubur” (HR.Ahmad)
Meninggal dengan dahi
berkeringat. Rasulullah SAW (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Orang mukmin itu meninggal dengan
berkeringat di dahinya” (HR. Ahmad, Tirmidzi dll. dishahihkan Al-Albani)
Meninggal karena wabah penyakit
menular dengan penuh kesabaran dan mengharapkan pahala dari Allah, seperti
penyakit kolera, TBC dan lain sebagainya.
Wanita yang meninggal saat nifas
karena melahirkan anak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang meninggal karena
melahirkan anaknya berarti mati syahid. Sang anak akan menarik-nariknya dengan
riang gembira menuju surga” (HR. Ahmad)
Munculnya bau harum semerbak,
yakni yang keluar dari tubuh jenazah setelah meninggal dan dapat tercium oleh
orang-orang di sekitarnya. Seringkali itu didapatkan pada jasad orang-orang
yang mati syahid, terutama syahid fi sabilillah.
Mendapatkan pujian yang baik dari
masyarakat atau pelayat sekitar setelah meninggalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam pernah melewati jenazah. Beliau mendengar orang-orang memujinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Pasti (masuk) surga”
Beliau kemudian bersabda, “kalian adalah
para saksi Allah di muka bumi ini” (HR. At Tirmidzi)
Melihat sesuatu yang
menggembirakan saat ruh diangkat. Misalnya, melihat burung-burung putih yang
indah atau taman-taman indah dan pemandangan yang menakjubkan, namun tidak
seorangpun di sekitarnya yang melihatnya. Kejadian itu dialami sebagian
orang-orang shalih. Mereka menggambarkan sendiri apa yang mereka lihat pada saat
sakaratul maut tersebut dalam keadaan sangat berbahagia, sedangkan orang-orang
di sekitar mereka tampak terkejut dan tercengang saja.
Lalu
Bagaimanakah kita menyambut kematian?
Saudaraku Yang
Budiman, sambutlah sang kematian dengan hal-hal berikut :
Dengan
iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir,
dan takdir baik maupun buruk.
Dengan
menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya di masjid secara berjama’ah
bersama kaum muslim dengan menjaga kekhusyu’an dan merenungi maknanya. Namun,
shalat wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjid.
Dengan
mengeluarkan zakat yang diwajibkan sesuai dengan takaran dan cara-cara yang
disyari’atkan.
Dengan
melakukan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala.
Dengan
melakukan haji mabrur, karena pahala haji mabrur pasti surga. Demikian juga
umrah di bulan Ramadhan, karena pahalanya sama dengan haji bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan
melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, yakni setelah melaksanakan yang wajib. Baik
itu shalat, zakat, puasa maupun haji. Allah menandaskan dalam sebuah hadits
qudsi,
“Seorang hamba akan terus mendekatkan
diri kepada-Ku melalui ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku mencintai-Nya”
Dengan
segera bertobat secara ikhlas dari segala perbuatan maksiat dan kemungkaran,
kemudian menanamkan tekad untuk mengisi waktu dengan banyak memohon ampunan,
berdzikir, dan melakukan ketaatan.
Dengan
ikhlas kepada Allah dan meninggalkan riya dalam segala ibadah,
sebagaimana firman Allah yang artinya, “Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah [98] : 5)
Mencintai Allah
dan Rasul-Nya.
Hal itu hanya
sempurna dengan mengikuti ajaran Nabi, sebagaimana yang Allah firmankan yang
artinya, “Katakanlah, Jika kamu
benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (QS. Ali-Imran
[3] : 31)
Dengan mencintai
seseorang karena Allah dan membenci seseorang karena Allah, berloyalitas karena
Allah dan bermusuhan karena Allah. Konsekuensinya adalah mencintai kaum mukmin
meskipun saling berjauhan dan membenci orang kafir meskipun dekat dengan
mereka.
Dengan rasa
takut kepada Allah, dengan mengamalkan ajaran kitab-Nya, dengan ridha terhadap rezeki-Nya meski sedikit,
namun bersiap diri menghadapi Hari Kemudian. Itulah hakikat dari taqwa.
Dengan bersabar
menghadapi cobaan, bersyukur kala mendapatkan kenikmatan, selalu mengingat Allah
dalam suasana ramai atau dalam kesendirian, serta selalu mengharapkan keutamaan
dan karunia dari Allah. Dan lain-lain.
Semoga sholawat
dan salam terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW, kepada seluruh keluarga
dan para sahabat serta umatnya yang senantiasa mengikuti ajaranya.
"Saudaraku Yang
Budiman dan Seiman Semoga Kita SemuaWafat (meninggal dunia)
Dalam keadaan husnul khotimah"
Aamiin ...
Wallahu
a’lam bishawab.
Wasalamualaikum wr.wb.Blogspot al-fudhola gp. e-mail, alfudhola16graha@gmail.com
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar